knrpbengkulu, Kairo (ANTARA News) – Delegasi DPR yang dijadwalkan tiba di Kairo,
Mesir, Minggu (21/9), belum mendapat izin untuk memasuki Jalur Gaza,
Palestina.
Delegasi DPR yang beranggotakan 21 orang dan dipimpin oleh Wakil
Ketua DPR Priyo Budi Santoso itu rencananya mengunjungi Jalur Gaza
selama lima hari.
“Sejauh ini delegasi DPR yang diketuai Pak Budi belum mendapat izin
dari pemerintah Mesir untuk masuk Gaza. Namun, KBRI Kairo terus
mengupayakannya,” kata Kepala Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo Windratmo Suwarno di
Kairo, Jumat.
Kepala Fungsi Politik KBRI Kairo Meri Binsar Simorangkir sebelumnya
mengatakan bahwa pihaknya sudah cukup lama mengajukan permohonan izin ke
Kementerian Luar Negeri Mesir namun belum juga mendapat tanggapan
hingga menjelang libur akhir pekan (Jumat dan Sabtu).
“Waduh delegasi DPR sudah mau datang, tetapi izin dari Kementerian
Luar Negeri Mesir untuk masuk Gaza belum kelar,” tutur diplomat muda itu
kepada Antara di sela pembukaan Pameran Produk Indonesia di KBRI Kairo.
Pemerintah Mesir memiliki otoritas pemberian izin masuk Gaza lewat
Rafah, satu-satunya pintu perbatasan yang menghubungkan kantong
Palestina bergolak itu dengan luar negeri.
Para relawan
Beberapa sukarelawan Indonesia yang hendak membawa bantuan kemanusiaan
untuk rakyat Gaza juga masih terkatung-katung di Mesir karena belum
mendapat izin.
“Mereka sudah lebih sebulan berada di Mesir, menanti izin yang belum
jelas. Akibatnya, salah satu sukarelawan dari Aksi Cepat Tanggap
terpaksa kembali ke Indonesia dua hari lalu karena tidak kejelasan
izin,” kata Basri Daly, mahasiswa Indonesia yang mendampingi para
sukarelawan.
Menurut Basri, permohonan izin masuk Gaza para sukarelawan Indonesia
itu disampaikan ke Kementerian Luar Negeri Mesir melalui KBRI Kairo jauh
hari sebelum tiba di Kairo.
“Saat ini sukarelawan Indonesia sudah menyiapkan bantuan kemanusiaan
kepada rakyat Gaza berupa lima unit ambulans. Rencananya pada tanggal 25
September 2014 diantar ke Gaza, tetapi lagi-lagi izin belum pasti,”
kata Basri Daly, mahasiswa asal Palu, Sulawesi Tengah.
Kesulitan izin masuk Gaza ini bertolak belakang dengan kesepakatan
gencatan senjata Israel-Palestina yang dimediasi Mesir pada akhir bulan
lalu.
Salah satu butir kesepakatan gencatan senjata itu adalah pembukaan
pintu perbatasan Rafah untuk bantuan kemanusiaan pasca-agresi militer
Israel yang menewaskan sedikitnya 2.482 warga Palestina. (mk/knrp)

Posting Komentar